Belajar memaafkan diri sendiri #1
Pernahkah kalian salah memaknai hidup dan justru terperosok jatuh dalam sekali hingga tak tahu bagaimana cara kembali ke atas? Aku pernah. Dan ini adalah sepenggal kisah tentang perjalanan hidupku yang pernah sepilu itu.
Aku masih sangat muda dan bergejolak. Saat seseorang yang terlihat sangat sempurna itu muncul dalam hidupku, aku seolah sedang menggunakan kacamata kuda dan tidak bisa melihat hal di sekelilingku lagi dengan jernih. Aku semakin jatuh hati kepadanya dan masuk ke dalam jurang manipulasi dan kebohongan yang diciptakannya untuk semakin mengikatku secara emosional. Aku saat itu 17 tahun, dan aku belum paham apa itu hubungan toksik. Yang kutahu hanyalah aku mulai sangat mencintainya dan dia sepertinya juga membalas perasaanku dengan baik.
Aku terpisah jarak ribuan mil dengannya tapi berkat internet kami masih dapat terhubung di beberapa aplikasi messenger.
Saat ibuku memberitahuku bahwa aku hanya selingan untuknya, aku hanya tertawa tidak percaya. Tidak mungkin aku hanya dijadikan yang kedua atau selingan. Aku yakin dia mencintaiku, begitulah yang kupikirkan saat itu.
Aku sempat curiga saat beberapa kali aku komen di blognya yang cukup ramai pengunjung, dia menghapus komenku. Tidak hanya sekali-dua kali, tapi berkali-kali dia menghapus komenku. Saat kutanya kenapa dia melakukannya, katanya hubungan kita cukuplah kita saja yang tahu. Orang lain tak perlu tahu. Aku tahu ini aneh sekali. Bagaimana bisa seseorang yang mencintaimu mengatakan sesuatu yang benar-benar absurd seperti itu? Ini seharusnya tanda awal red flags dari hubungan yang sangat tidak sehat dan berbahaya. Tapi aku masih sangat lugu dan tak kunjung paham.
Dia juga sering menghilang selama berbulan-bulan tanpa sekalipun mengirim kabar. Saat itu aku sangat memaklumi karena dia sedang fokus studi. Aku pun mulai menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi di kampus.
Ibuku kembali mengingatkanku untuk memutuskan hubungan dengannya dengan mengirimkan hasil obrolannya dengan teman seangkatan SMA-nya. Dia pulang ke Indonesia dan sempat singgah agak lama di kota tempatku tinggal. Tapi dia tak menghubungiku sama sekali. Sudah 6 bulan sejak terakhir kali kami mengobrol panjang. Saat itu aku pun mulai tersadar bahwa ini hubungan cinta sepihak. Hanya aku yang berusaha sangat keras dalam hubungan ini. Lalu aku pun mulai berusaha melupakannya.
Datanglah seorang lelaki baik bernama D ke dalam hidupku. Tiga tahun yang lalu, aku pernah menolak pernyataan cintanya karena aku merasa masih bersamanya. Saat dia menyatakan perasaannya lagi aku didera keraguan: apakah aku sudah siap memulai hubungan baru? Aku bilang padanya bahwa aku butuh waktu untuk berpikir. Ternyata dia sangat gigih. Dia mendatangi ibuku di kantor tempat ibuku bekerja dan meminta restu. Ibuku berpesan aku tidak ingin anakku dipermainkan oleh lelaki manapun, dia mengangguk dengan sungguh-sungguh kata ibuku. Ibu mengirim seluruh hasil pertemuan D dengannya padaku. Sebulan kemudian, aku pun luluh dan menerima perasaannya. Saat itu aku tak tahu jika D ternyata masih berpacaran dengan wanita lain dan belum memutuskan hubungan sama sekali. Wanita itu menghubungiku di Facebook dengan chat yang panjang tentang kenapa aku menjadi wanita yang sangat jahat sehingga menginginkan pria milik wanita lain. aku mengirimkan screenshot chat itu pada D. Awalnya D mengelak namun akhirnya mengaku. DIa memang belum memutuskan wanita itu. Aku memintanya agar kita putus saja, tapi D tidak mau.
Setiap hari minggu D mengajakku sarapan bersama di sekitar kampus. di minggu ketiga, aku merasa kami diikuti oleh motor lain di belakang. Ternyata wanita itu telah mengikutiku dan D sejak tempat sarapan tadi. Raut mukanya terlihat sangat marah. Dia membentak D dengan keras. "Maksudmu apa mas sampai aku harus lihat hal kayak gini? hah? Maksudmu apaaaa?"
BERSAMBUNG KE CHAPTER 2
Comments
Post a Comment